Uncategorized

2000 Bayi Di Kota Serang Alami Stunting

Ilustrasi (Sumber : Google Imgae)

JARRAKPOSBANTEN, SERANG – dari sekitar 60 ribu bayi yang ada di Kota Serang, setidaknya terdapat 2000 bayi masih mengalami stunting. Hal itu diungkapkan oleh Kepada Dinas Kesehat (Sinkes) Kota Serang M. Iqbal.

“Stunting itu ada 2000an, tapi kita kan jumlah balitanya banyak, jumlah balita itu kalau kita refresentasikan itu 5,8 dari total jumlah balita sekitar 60 ribuan, itu hasil pemantauan kita data tahun 2019,” ujarnya kepada selatsunda.com

Meskipun demikian Iqbal menjelaskan bahwa penanganan stunting bukanlah hanya menjadi tanggung jawab Dinkes, melainkan juga beberapa OPD terkait yang memiliki hubungan.

“70 persen dari kasus stunting itukan tugas OPD lain. Makanya berbicaranya dukungan-dukungan dari program-program dari OPD lain supaya bagaimana kemiskinan dikurangi, bagaimana daya beli masyarakat naik, itukan OPD lain mestinya kan,” jelasnya.

Dari seluruh data gizi buruk yang tetsebar di 6 Kecamatan dengan terbanyak di Kecamatan Kasemen, Iqbal Menegaskan para OPD terkait harus ikut serta dalam menekan angka stunting di Kota Serang.

“Yang bisa merubah orang bisa kerja siapa? yang supaya orang itu dagangnya bagus? Yang supaya orang itu pemberdayaan ekonomi masyarakat itu bagus? Artinya inikan tanggung jawab semua,” tegasnya.

Faktor kemiskinan, merupakan akar dari terjadinya stunting pada bayi. Dengan menganalogikan 2 kehidupan di wilayah yang berbeda, Iqbal mejelaskan bagaimana kemiskinan sangat dekat dengan stunting.

“Ada klompok masyarakat yang tinggal di perumaha sama masyarakat yang tinggal di perkampungan, diperumahan itu hampir jarang ada yang stunting, gizi kurang, gizi buruk tapi bagaimana diperkampungan, diperumahan punya daya beli, ibunya hamil diberikan asupan makanan yang bagus, kalau dikampung boro-boro beli susu,” sambungnya.

Penyelesaian stunting, membutuhkan proses panjang, perhatian sedini mungkin bagi para wanita yang akan mengandung kemudia melahirkan perlu mendapatkan perhatian yang serius.

“Kita, siklus kehidupan itu untuk stunting berangkat dari remaja putri, remaja putri itu pastikan pada saat SDnya dia bagus, masuk SMP dikasih oleh kita tablet tambah darah, masuk SMA juga demikian begitu, dia masuk ke uisa dewasa kan nikah, nanti kan hamil nah dari situ kita kelola itu, kalau itu di kelola, saya yakin nanti begitu dia hamil tidak ada bakat untuk menjadi kerdil,” paparnya.

Selain itu, pemantauan ibu hamil di Posyandu merupakan salah satu cara agar dapat meminimalisirnya bayi terlahir dengan kondisi stunting.

Iqbal berjanji dalam kurun waktu 5 tahun, pihaknya akan menekan angka tersebut hingga menjadi 1 persen.

Oleh : Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close