Wed. Jan 27th, 2021

GMNI Banten Demo Suarakan Isu Kekerasan Terhadap Perempuan

1 min read

Serang – Puluhan Anggota Mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang ke 16. Dalam aksi tersebut, mereka menyebut Banten Darurat Kekerasan Terhadap Perempuan.

“Dari catatan LPA (Lembaga Perlindungan Anak-red) Banten, ada 35 kasus pelaporan. Data itu, menunjukan Banten tak aman bagi perempuan, padahal ada perda nomor 9 tahun 2017 tentang perlindungan anak dan perempuan di Provinsi Banten.”ucap Kiki Rismariyanti kepada awak media, Rabu 2 Desember 2020.

Lanjut Kiki, pihaknya menyebut, untuk kasus kekerasan seksual di Banten layaknya gunung es, data di lapangan, masiu banyak korban yang belum berani melapor dan belum tercatat.

Sementara itu, untuk di Indonesia belum ada regulasi yang mengatur tentang penanganan dan mengatur tentang kekerasan seksual secara speksifik. Menurut Kiki, sudah saatnya RUU PKS di sah kan untuk mengatur itu semua.

“Harus ada aturan jelas yang melindungi kaum perempuan. Sehingga perempuan tak lagi takut, ketika diperlakukan seksual dan mereka berani melapor.”tegas Kiki.

Di tempat yang sama, Ketua GMNI Untirta Khoirun zarly menjelaskan, kekerasan paling rawan terjadi di ranah pendidikan. Menurut Zarly, ruang pendidikan belum begitu aman.

Kata Zirly, pentingnya menciptakan kampus ramah untuk kaum. Hal ini, untuk mencegah terhadap terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam institusi pendidikan.

“Aksi ini adalah rangkaian agenda yang digagas untuk memperingan 16 hari HAKTP bersama GMNI Serang, puncaknya akan ada aksi serentak pada tanggal 7 Desember.”terang Zirly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *